MAKALAH TENTANG BUDIDAYA TANAMAN TOMAT
MAKALAH
TENTANG BUDIDAYA TANAMAN TOMAT
BUDIDAYA
TANAMAN TOMAT
OLEH
DIMPAN
SIHOMBING
154110319
MAKALAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SISIGAMAGRAJA XII
TAPANULI UTARA
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur
penulis kehadirat Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, yang telah
memberi rahmat serta hidayahNya kepada kita sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan judul “Budidaya Tanaman Tomat” Tak lupa
sholawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sang
pilihan dan sang pemilik ukhwah.
Penulis membuat makalah ini
bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian. Penulis
juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing Ir. Ernita, MP
yang juga selaku dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian.
Penulis menyadari bahwa
dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan karena masih dalam tahap
belajar. Oleh karena itu, penulis dengan terbuka akan menerima kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca khususnya.
Penulis,
Siborongborong, Januari 2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………… i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………… 1
1.
Latar Belakang…………………………………………………………. 1
2.
Rumusan Masalah……………………………………………………… 2
3.
Tujuan Penulisan……………………………………………………….. 2
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA…..…………………………………………… 3
1.
Produksi dan Biaya Produksi…………………………………………… 3
2.
Harga…………………………………………………………………… 4
3.
Penerimaan dan Pendapatan…………………………………………… 4
BAB III PEMBAHASAN.……………………………………………………….
6
1.
Budidaya Tomat……………………………………………………….. 6
2.
Pengolahan Lahan……………………………………………… 6
3.
Penyemaian……………………………………………………… 6
4.
Pemupukan Dasar………………………………………………. 6
5.
Pemasangan Mulsa……………………………………………… 7
6.
Pembuatan Lubang Tanaman…………………………………… 8
7.
Penanaman……………………………………………………… 8
8.
Penyulaman…………………………………………………….. 9
9.
Pemasangan Ajir/Turus………………………………………… 9
10. Pengendalian
Hama dan Penyakit Tanaman Tomat…………… 10
11. Panen………………………………………………………….
10
12. Pemasaran
Hasil……………………………………………… 11
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………. 12
1.
Kesimpulan…………………………………………………………… 12
2.
Saran………………………………………………………………….. 12
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….. 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara
agraris yang artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan
perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dan banyaknya penduduk atau
tenaga kerja yang hidup dan bekerja pada sektor pertanian (Mubyarto, 1994).
Pembangunan pertanian yang
berhasil dapat diartikan jika terjadi pertumbuhan sektor ekonomi yang tinggi
dan sekaligus terjadi perubahan masyarakat dan taraf hidup yang kurang baik
menjadi lebih baik. Hal ini terlihat dari peranan sektor pertanian terhadap penyediaan
pangan, penyumbang devisa negara melalui ekspor dan lain sebagainya
(Soekartawi, 1994).
Salah satu tujuan utama
pembangunan pertanian tanaman pangan adalah swasembada pangan. Kebijaksanaan
swasembada pangan diperluas, tidak hanya bertumpu pada komoditas beras saja
tetapi juga pada komoditas lain yang mengandung karbohidrat, protein, mineral
dan vitamin seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga-bungaan, seperti
halnya komoditas tomat (Soekartawi, 1994).
Buah tomat sebagai salah
satu komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran yang cerah. Hal ini dapat
dilihat dari banyaknya buah tomat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
diantaranya adalah sebagai sumber vitamin. Buah tomat sangat baik untuk
mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti sariawan karena
mengandung vitamin C. Selain sebagai buah segar yang langsung dapat konsumsi,
buah tomat juga dapat digunakan sebagai bahan penyedap berbagai macam masakan
seperti sop, gado-gado, sambal, dan juga dapat dijadikan bahan industri untuk dikonsumsi
dalam bentuk olahan, misalnya untuk minuman sari buah tomat, es juice tomat,
dan konsentrat. Berbagai macam kegunaan tersebut dapat memberikan keuntungan,
baik bagi konsumen, produsen, maupun masyarakat pada umumnya.
Potensi pasar buah tomat
juga dapat dilihat dari segi harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat sehingga membuka peluang yang lebih besar terhadap serapan pasar
(Cahyono,1998).
Berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik Sulawesi Tenggara (2009), produksi tomat pada tahun 2011
sebanyak 3.009 ton dengan luas panen seluas 40 ha, sementara untuk Desa
Lapandewa pada tahun 2011 produksi tanaman tomat sebanyak 93,58 ton
dengan luas panen sekitar 10,56 ha.
Menurut (Soeharjo dan
Patong 1994), pada beberapa daerah di Indonesia, petani belum mampu mengambil
keputusan ekonomis yang menguntungkan. yang dimaksud adalah kemampuan petani
dalam menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan
faktor-faktor produksi seefektif mungkin agar produksi pertaniannya memberikan
fungsi yang lebih baik dan lebih menguntungkan.
1.
Rumusan Masalah
2.
Bagaimana langkah-langkah budidaya tumbuhan tomat.?
3.
Bagaimana pengendalian hama pada tumnuhan tomat.?
4.
Manfaat
5.
Untuk mengetahui bagaimana cara budidaya
tanaman tomat.
6.
Untuk mengetahui bagaiman pengendalian hama pada tanaman tomat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Produksi dan Biaya Produksi
Pada umumnya, produksi yaitu proses kombinasi dan koordinasi
material- material dan kekuatan-kekuatan (input,
sumber daya, atau jasa-jasa produksi) dalam pengolahan suatu barang atau jasa
(Beattie-Taylor, 1994). Faktor produksi adalah semua korbanan yang
diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan
dengan baik. Diberbagai literatur, faktor produksi ini dikenal pula dengan
istilah input,
production factor, dan korbanan produksi (Soekartawi, 2001)
Sukirno (2002),
mendefinisikan biaya produksi sebagai pengeluaran yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi atau biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak
tunai. Menurut Soekartawi (1993), faktor-faktor yang mempengaruhi produksi
dapat dibedakan menjadi kelompok, yaitu :
1.
Faktor teknis, seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat
kesuburannya, bibit, varietas, pupuk dan pestisida.
2.
Faktor sosial ekonomi, seperti biaya produksi, harga, tenaga
kerja, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, resiko ketidakpastian,
kelembagaan, tersedianya kredit dan sebagainya.
Menurut Soedarsono (1995),
untuk memperoleh tingkat produksi optimal agar tercapai tingkat penerimaan yang
optimal, produsen haruslah memperhitungkan jumlah produksi, di mana pada jumlah
tersebut diharapkan penggunaan yang berlebihan akan menurunkan hasil sehingga
optimalisasi penerimaan tidak tercapai. Tingkat optimalisasi penerimaan akan
tercapai bila penggunaan faktor-faktor produksi telah efisien dan harga yang
berlaku dapat menjamin keadaan tersebut, sehingga produksi yang diperoleh
mencerminkan tingkat efisien dan keadaan usahatani tersebut. Menurut Mubyarto
(1994) dalam kegiatan produksi tidak hanya memperhitungkan jumlah produksi
fisik saja, tetapi juga memperhitungkan faktor -faktor produksi yang digunakan
sehingga tercapai produksi yang optimal. Tingkat produksi optimal diperoleh
pada saat keuntungan maksimal, yang terdapat pada tingkat produksi yang
memberikan selisih besar antara penerimaan dengan biaya produksi.
Menurut Hernanto (1996),
tujuan berusaha tani adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan
pemilihan penggunaan faktor produksi. Ditambahkan Soekartawi (2003), keuntungan
dapat ditingkatkan dengan cara meminimumkan biaya dengan mempertahankan tingkat
penerimaan yang di peroleh dan meningkatkan total penerimaan dengan mempertahankan
total biaya tetap.
1.
Harga
Harga merupakan nilai yang
dinyatakan dalam satuan mata uang atau alat tukar yang lain dengan satu barang
tertentu. Harga merupakan elemen pokok dalam pemesanan karena langsung
berhubungan dengan permintaan hasil total dimana dalam penetapan harga ini
dapat berbeda-beda dari tempat satu ke tempat yang lain (Winardi, 1990).
Sedangkan menurut Saladin (1991), harga adalah sejumlah uang sebagai alat tukar
untuk memperoleh produk dan jasa. Mubyarto (1994), mengemukakan bahwa suatu barang
mempunyai harga karena barang tersebut berguna dan jumlahnya terbatas. Harga
ditetapkan oleh interaksi kekuatan permintaan dan penawaran didalam suatu pasar
yang karakteristiknya persaingan sempurna yaitu banyaknya konsumen dan produsen
yang bersaing satu sama lainnya didalam situasi di mana tidak satupun diantara
mereka secara individual cukup penting bisa mempengaruhi salah satu harga yang
dibayar atau kuantitas yang diminta dan ditawarkan (Todaro, 1997).
1.
Penerimaan dan Pendapatan
Penerimaan usahatani adalah
hasil penjualan dan sejumlah produksi tertentu yang diterima atas penyerahan
sejumlah barang pada pihak lain (Boediono, 1992).
Pendapatan merupakan jumlah
seluruh uang yang akan diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka
waktu tertentu. Pendapatan terdiri dan upah atau penerimaan tenaga kerja,
pendapatan dan kekayaan seperti sewa, bunga serta pembayaran transfer atau
penerimaan dari pemerintah tunjangan sosial (Samuelson dan Nordhaus, 2003).
Sementara itu, Kadariah
(1983), menyatakan bahwa pendapatan adalah hasil berupa uang atau hasil
material lainnya yang berasal dan pemakaian kekayaan atau dan jasa-jasa manusia
yang bebas. Pendapatan umumnya adalah penerimaan-penerimaan individu atau
perusahaan.
BAB III
PEMBAHASAN
1.
Budidaya Tomat
Tanaman tomat di Desa
Lapandewa ditanam secara intensif artinya bahwa tomat diusahakan secara
sungguh-sungguh hal ini juga dipengaruhi oleh faktor resiko yang cukup besar
dan iklim yang sudah tidak bisa dibaca secara pasti. Adapun cara-cara budidaya
tanaman tomat yang dilakukan petani di Desa Lapandewa adalah sebagai berikut:
1.
Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan dilakukan
dengan cara dicangkul atau dibajak secara merata kemudian lahan dibiarkan
selama satu minggu untuk mematangkan tanah, satu minggu setelah pengolahan
lahan, dibuatlah bedengan-bedengan untuk media tanam dengan ukuran lebar bedeng
antara 120-130 cm sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi
lahan. Untuk penggunaan ukuran lebar bedengan tersebut digunakan oleh seluruh
petani yang ada di lokasi penelitian.
2.
Penyemaian
Untuk memudahkan perawatan,
biji yang sudah mendapat perlakuan fungisida, disemaikan dalam wadah yang
terbuat dari kotak kayu, polibag, pot bunga dan sebagainya. Biji disebar
merata diatas pesemaian berupa tanah yang bersih yang sudah diayak dan dicampur
dengan pasir bersih serta pupuk kandang (perbandingan 1:1:1). Kemudian
ditutup dengan tanah yang dilewatkan melalui sebuah ayakan, tidak tebal tetapi
asal dapat menutup media. Media untuk pesemaian ini dipilih yang
mempunyai aerasi baik, subur dan gembur, maka akar akan tumbuh lurus dan
memudahkasn pemindahan bibit ke polibag pembesaran.
3.
Pemupukan Dasar
Pemupukan dasar dilakukan
setelah bedengan telah siap. Pupuk dasar yang digunakan antara lain, kapur,
pupuk kandang, ponska, dan KCL. Pupuk
diberikan
secara bersamaan sebelum dilakukan pemasangan rnulsa, untuk luas lahan 0,4 ha
kapur, pupuk kandang, ponska, dan KCL. Pemupukan dilakukan dengan cara ditabur
secara merata di atas bedengan yang kemudian dicangkul kembali dengan halus
agar pupuk yang ditabur dapat tercampur dengan sempurna. Semua responden
di lokasi penelitian menggunakan pupuk kandang, KCl, kapur dan Mutiara,
sedangkan pada pupuk Ponska hanya digunakan 11 responden dan pada pupuk Tensil
Organik hanya digunakan 8 responden.
Cara pemupukan di lokasi
penelitian dilakukan secara terus menerus dan takaran pupuk disesuaikan dengan
usia tanamannya. Sebelum menabur pupuk terlebih dahulu dibuat tanaman itu
dengan batang tanaman sebagai pusat lingkaran. Garis tengah lingkaran
selalu berubah-ubah mengikuti pertumbuhan tajuk tanaman. Dengan demikian,
makin bertambahnya usia tanaman maka makin lebar tajuknya, maka makin besar
pula lingkaran yang mengelilingi tanaman itu untuk menabur pupuk. Sesudah
pupuk ditabur merata di dalam rorakan selanjutnya ditutup kembali dengan tanah.
Mengenai dosis/takaran
pemupukan belum ada ketentuannya. Kebanykan petani scukup melakukan
pemupukan secara umum saja, yaitu sekedar memberi pupuk organik (pupuk kandang)
atau pupuk hijau (yang kebetulan tumbuh di sekitar kebun). Sampai kini,
berapa banyak takaran pupuk dan apa yang dibutuhkan belum ada kepastiannya.
4.
Pemasangan Mulsa
Sejalan dengan semakin
berkembangnya teknologi budidaya tanaman, telah diperkenalkan dengan teknik
kultur sistem mulsa plastik, terutama MPHP. Berdasarkan hasil-hasil
penelitian di lapangan, sistem pemulsaan ini berpengaruh baik terhadap
peningkatan kuantitas dan kualitas hasil tomat. Penggunaan mulsa plastik
hitam perak sebagai mulsa lebih praktis dibanding dengan penggunaan sisa-sisa
tanaman yang telah mati atau jerami. Penggunaan mulsa plastik dibanding
lebih praktis, karena mudah didapat, mudah penggunaannya sehingga lebih
menghemat biaya pada musim tanam berikutnya. Pemasangan mulsa dilakukan pada
saat bedengan benar-benar sempurna, mulsa yang digunakan adalah jenis mulsa
plastik hitam perak, pemasangan mulsa bertujuan untuk menjaga tingkat
kelembaban media tanam, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi tingkat serangan
hama dari penyakit tanaman. Semua responden yang ada di lokasi penelitian
melakukan pemasangan mulsa.
5.
Pembuatan lubang tanam
Setelah persiapan lahan
pertanaman rampung/selesai pekerjaan selanjutnya pada areal pertanaman adalah
mempersiapkan lubang tanam. Pembuatan lubang tanam dilakukan satu minggu
sebelum penanaman bibit.
Lubang tanam dibuat sesuai
dengan jarak tanam yang telah ditentukan yaitu 60 cm X 80 cm dan alat yang
digunakan untuk membuat lubang tanam ada berbagai jenis. Misalnya kaleng
silinder, ataupun alat yng dibuat secara khusus untuk membut lubang
tanam. Jarak tanam harus diatur dengan baik dan jangan terlalu rapat,
karena dapat mengurangi penerimaan sinar matahari. Tanaman tomat yang
kurang menerima sinar matahari akan mengakibatkan proses fotosintesis tidak
dapat berlangsung dengan baik. Jarak yang terlalu rapat dapat
mengakibatkan tingkat kelembaban menjadi tinggi dan persaingan dalam penyerapan
air dan unsur hara pun terjadi. Ukuran ini juga digunakan oleh seluruh
responden di lokasi penelitian.
6.
Penanaman
Bibit seharusnya sudah
diseleksi pada temat pembibitan sebelumnya diangkut ke lahan pertanaman.
Bibit tomat adapat dipindahkan ke lahan pertanaman apabila telah berumur antara
30 – 45 hari di pesemaian. Bibit yang terpilih sebaiknya yang
berpenampilan sehat, tumbuh subur dan tegak serta daunnya tidak ada yang rusak.
Bibit dirawat agar
terhindar dari serangan hama dan penyakit. Kesehatan bibit yang sudah
terjamin baik dapat diperhastikan dari petumbuhannya yang normal dan tanaman
tampak subur.
Bibit tanaman tomat di
tempat pembibitan itu biasanya dinaungi atau tidak mendapat sinar matahari
secara langsung. Jadi sebelum ditanam di areal pertanaman, bibit itu
harus cukup terbiasa mendapat sinar matahari langsung karena pada areal
pertanaman tidak ada lagi yang dapat menaunginya.
Saat yang terbaik untuk
menanam sayuran tomat adalah tiga hari sesudah lubang tanam dipersiapkan dan
diusahakan pada pagi atau sore hari. Pada saat pagid an sore hari,
keadaan cuaca belum panas sehingga tanaman dapat terhindar dari kelayuan.
Kelayuan dapat terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara jumlah air yang
diserap oleh akar tanaman adengan proses transpirasi (penguapan) yang terjadi
pada tanaman itu sendiri. Penanaman tomat pada umumnya ditanam dengan jarak 60
cm X 80 cm dengan jumlah rumpun satu rumpun setiap lubang tanam.
Penanaman dengan jarak ini digunakan oleh seluruh responden yang ada di lokasi
penelitian.
7.
Penyulaman
Penyulaman adalah kegiatan
untuk mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya tidak
normal. Penyulaman tanaman biasanya dilakukan antara 4-7 hari setelah
tanam. Penyulaman dilakukan apabila ada tanaman yang mati atau tumbuh secara abnormal
dan bibit yang digunakan untuk menyulam haruslah berasal dari bibit yang sama
dengan harapan tanaman yang ada tumbuh secara seragam. Untuk perlakuan
penyulaman ada yang 4-7 hari setelah tanam ada juga yang 3 hari karena pada
saat itu sudah dapat terlihat adanya tanaman yang pertumbuhannya tidak
normal. Pertumbuhan yang tidak normal itu dapat terjadi disebabkan oleh
kesalahan pada saat penanaman.
Bibit yang digunakan untuk
penyulaman adalah bibit yang sengaja disisakan atau dibiarkan tumbuh pada lahan
pembibitan sebagai bibit cadangan. Bibibt yang digunakan untuk penyulaman
adalah bibit yang sama umurnya dengan tanaman yang tidak disulam, sehingga
pertumbuhan semua tanaman seragam.
8.
Pemasangan ajir/turus
Pemasangan turus berguna
untuk menegakkan tanaman tumbuh. Tanaman tomat yang tingginya kira-kira
25 cm atau sekitar 21 hari sejak ditanam harus diberi ajir/turus atau
penunjang. Tanaman tomat yang memiliki batang yang kurang kuat untuk
menopang pertumbuhannya harus dipasang turus untuk membantu menopang buah.
Selain itu, pemberian turus juga dapat menjadi tempat tanaman merambat vertikal
ke atas dan tanaman mendapatkan pernyinaran sinar matahari yang lebih baik
dibandingkan bila tanaman itu menjalar horizontal diatas tanah.
Turus/ajir atau alat
penopang pertumbuhan tomat ini dapat dibuat dari bahan bambu yang ditancapkan
tegak diatas tanah dekat pada batang tanaman. Untuk menguatkan turus
tetap tertancap tegak, maka setiap turus diikat pada bambu yang dibuat
melintang. Konstruksi turus dapat dibentuk dengan palang segitiga, yaitu
posisi turus pada setiap tanaman dipasang miring sehingga ujung turus dapat
disatukan dengan ujung turus yang berada di depan atau
disebelahnya. Konstruksi bangun ini seperti sangat sesuai bila
sistem penanaman dilakukan dengan pola barisan berganda.
9.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Tomat
Kerusakan pada suatu
tanaman biasa disebabkan oleh faktor biotis, seperti sbangsa jamur, bakteri,
insekta, virus dan gulma. Untuk memberantas jamur digunakan fungisida,
memberantas bakteri digunakan bakterisida dan memberantas insekta digunakan
insektisida. Untuk memberantas virus umumnya masih dilakukan dengan
pencabutan kemudian dimusnahkan, sedangkan untuk memberantas gulma digunakan
herbisida.
Hama adalah hewan yang
merusak tanaman atau hasil tanaman karena aktivitas hidupnya, terutana
aktivitas untuk memperoleh makanan. Hama tanaman memiliki kemampuan
merusak yang sangat hebat. Akibatnya tanamana dapat rusak atau bahkan
tidak dapat menghasilkan sama sekali.
Hama pada tanaman terdiri
dari atas hewan mamalia, serangga dan burung. Hama tanaman berupa hewan
mamalia terdiri dari tikus, babi hutan dan kera. Hama tanaman berupa
burung terdiri dari burung gelatik dan burung pipit. Hama tanaman berupa
serangga misalnya wereng, kutu daun, walang sangit, belalang, berbagai ulat dan
berbagai kumbang.
10. 10. Panen
Penentuan panen sangat
mempengaruhi mutu dan harga tomat saat di pasarkan. Pemanenan secara
periodik dilakukan 2 atau 3 kali sepekan bergantung pada keadaan buah yang
matang. Adapun ciri buah tomat dalam proses perubahan warna buah tomat:
1.
Panen Tomat Warna Hijau : Panen dilakukan pada saat seluruh
permukaan buah berwarna hijau, mungkin hijau cerah atau hijau pekat. Di
sekitar biji terdapat lendir dan jika buah dipotong bijinya menyamping atau
dengan kata lain tidak terpotong.
2.
Panen Tomat Warna Gading : Panen dilakukan pada saat tomat
berwarna gading mulai muncul di ujung buah. Perubahan warna tidak lebih
dari 10%. Permukaan buah berubah kekuningan, jingga atau merah dan
selebihnya hijau.
3.
Panen Tomat Warna Kuning : Panen dilakukan pada saat warna tomat
mulai berubah dari warna hijau menjadi kuning, oranye atau merah.
4.
Panen Tomat Merah Muda : Panen dilakukaan pada saat buah
berwarna merah muda atau setengah masak. Warna hijau pada tomat hampir
sama dengan kuning, oranye atau merah.
5.
Panen Tomat Merah : Panen dilakukan pada saat buah berwarna
merah atau buah masak, permukaan buah lebih banyak berwarna kuning, oranye,
jingga atau merah. Warna hijau berangsur berkurang hanya sekilas.
6.
Pemasaran hasil
Penanganan hasil panen
adalah suatu rangkaian kegiatan yang dimulai dari pengumpulan hasil panen
sampai pada tahap siap untuk dipasarkan. Penanganan hasil panen harus
dilakukan dengan cermat dan hati-hati karena sangat menentukan mutu akhir
buah. Pemasaran hasil tanaman tomat di Desa Lapandewa pada umumnya petani
menjual langsung ke tengkulak yang kemudian tengkulak membawa dan menjualnya di
pasar-pasar terdekat yang ada.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Dapat di simpulkan bahwa
Buah tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran
yang cerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buah tomat yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat diantaranya adalah sebagai sumber vitamin. Buah
tomat sangat baik untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti
sariawan karena mengandung vitamin C. Selain sebagai buah segar yang langsung
dapat konsumsi, buah tomat juga dapat digunakan sebagai bahan penyedap berbagai
macam masakan seperti sop, gado-gado, sambal, dan juga dapat dijadikan bahan
industri untuk dikonsumsi dalam bentuk olahan, misalnya untuk minuman sari buah
tomat, jus tomat, dan konsentrat.
Berbagai macam kegunaan
tersebut dapat memberikan keuntungan, baik bagi konsumen, produsen, maupun
masyarakat pada umumnya. Sehingga, Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang
berumur pendek, artinya umur tanaman hanya satu kali berproduksi dan setelah
itu mati. Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh manusia, karena mengandung vitamin
dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Dalam buah tomat
juga terdapat zat pembangun jaringan tubuh dan zat yang dapat meningkatkan
energi.
1.
Saran
1.
Kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dapat lebih memperhatikan
petani dalam mendapatkan benih dan pupuk yang berkualitas tinggi supaya bisa
mendapatkan hasil yang lebih besar.
2.
Prasarana jalan yang rusak yang selalu menghambat perjalanan
hasil produksi menjadi lambat supaya bisa diperbaiki dengan begitu pemasaran
tomat ke sentra pemasaran dapat sampai dengan tepat waktu, karena tomat adalah
tanaman buah yang cepat busuk.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, B. 1998. Tomat Budidaya dan Analisis Usaha Tani.Kanisius,
Yogyakarta.
0 Response to "MAKALAH TENTANG BUDIDAYA TANAMAN TOMAT"
Post a Comment