Pak, Jokowi, Pak… Pak…, Jokowi Pak…

Suaranya masih cedal. Namanya Pijar. Kala itu belum genap lima tahun usianya. Dengan suara penuh semangat dia menyeru: “Pak, Jokowi, Pak… Pak, Jokowi Pak…”, sembari menepuk-nepuk bahu bapaknya dengan jari telunjuk menunjuk-nunjuk.
Padahal dia tidak sedang melihat Jokowi yang kala itu bersama Ahok maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Pijar telah dibuat heboh hanya dengan melihat baju kotak-kotak yang kukenakan. Menyaksikan tingkah polah bocah yang seheboh itu, diriku pun bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan Jokowi? Hingga anak kecil saja menyebut nama Jokowi dengan penuh ekspresi dan tanpa basa-basi?
Pak Thomas (Nanggulan, Kulonprogo) melihat tingkah anaknya hanya tertawa saja, sebelum kemudian melempar opini:“Piye, Jokowi dadi Gubernur Jakarta, apa Presiden 2014?” Mendengar hal itu secara otomatis aku pun tertawa secara sporadis dan mendadak kritis. “Lha wong kursi Gubernur DKI saja belum dicapai kok mikir Presiden to Pak Thom, ha ha ha ha…” sahutku secara sistematis.
“Lha kowe mathuk ora yen Jokowi Presiden?” tanya Pak Thom sembari terkekeh namun membikin hati meleleh. Maklum, itu adalah pertanyaan terbaik yang paling menarik yang pernah kudengar sepanjang tahun 2012. “Masya Allah, Pak Thom… mathuk ae nganggo banget,” gumamku dalam hati.
Dampak dari baju kotak-kotak ternyata tak bisa ditolak. Dengan bangga, Pak Prabowo pun mengenakan baju itu. Benar-benar gagah dan kelihatan berwibawa sekali, Pak Prabowo tiap kali orasi dan tampil di televisi dengan baju kotak-kotaknya, sembari mengiklankan Jokowi-Ahok mewujudkan Jakarta Baru. Benar-benar bikin terharu.
Maklum saja, pasangan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu memang memperkenalkan baju kotak-kotak demi Jakarta Baru secara masif. Hingga warga di luar Jakarta pun ikut-ikutan beli. Yang tidak boleh ketinggalan adalah Pak Thomas yang kemudian diikuti diriku.
Tidak tanggung-tanggung. Aku membeli langsung ke Penjahit Arjuna, dekat Terminal Gilingan, Nusukan, Solo. Tentu berbekal ancer-ancer alamat dari Pak Thomas yang istrinya adalah seorang putri Solo. Maklum, zaman itu masih erasymbian. Android dengan aplikasi GPS (Global Positioning System) belum lahir. Praktis ancer-ancer alamat menjadi penting selain berani bertanya di jalan.
Berbekal ancer-ancer alamat tersebut, meluncurlah daku bersama motor tua keluaran pabrikan berlogo sayap sebelah, CB 100 tahun 1980, dari Kulonprogo menuju Solo. Kala itu cinta pada motor berhijab yang berasap alias sang Yamaha RXZ belum tumbuh. Hingga tiga kali daku membeli baju kotak-kotak, kemudian rompi kotak-kotak, dan topi kotak-kotak. Kalau penjahitnya jual nasi kotak, pasti kebeli juga. Ha ha ha ha.

Kisah baju kotak-kotak Jokowi Ahok ini memiliki nilai spesial yang tak mungkin kulupa. Orang-orang bisa saja melupakan hingga meremehkan eksistensi baju kotak-kotak. Silahkan saja orang-orang mau nyinyir hingga mencibir keberadaan baju kotak-kotak. Bagiku baju kotak-kotak sangatlah super istimewa. Tanya kenapa?
Jawabnya, baju kotak-kotak memiliki tuah alias berkah yang tak ternilai. Baju kotak-kotak telah menjadi bagian dari sebuah narasi besar karena memiliki nilai historis-romantis. Asal tahu saja, baju kotak-kotaklah yang menghantar kami menikah pada 2013. Ya, foto kami berdua di surat nikah adalah dengan mengenakan baju kotak-kotak. Syukurnya, calon istri waktu itu setuju, berkat kecerdasan merayuku kala itu. Mau tahu?
“Dik… Jokowi dan Ahok adalah simbol harapan bagi Indonesia. Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik mari kita percaya pada harapan itu. Berbekal kepercayaan itu, maukah kamu menikah denganku? Kalau mau mari kita fota berdua dengan baju kotak-kotak,” kurang lebih, itulah rayuan mautku yang membuat calon istri bersyukur punya suami sepertiku.
Itulah, betapa Jokowi-Ahok dengan baju kotak-kotaknya menjadi simbol bagi lahirnya harapan baru. Jokowi-Ahok dengan baju kotak-kotaknya telah menumbuhkan keberanian bagi kami hingga bisa menikah. Maklumlah, namanya menikah, bagiku bukan suatu yang mudah. Ada hal yang membuat hati ini merasa gentar.
Banyak hal yang harus dipikirkan hingga tersadar bahwa pernikahan itu bukan berada dalam dunia ide. Tidak cocok kalau menjelaskan pernikahan dengan Filsafat Plato. Lebih baik memakai Filsafat Aristoteles yang empiris. Mengingat, modal utama untuk menikah adalah keberanian alias sedikit kenekatan. Meminjam istilah Gus Dur harus modal dengkul. Ingat kan, kalau Gus Dur bisa jadi Presiden sebenarnya hanya modal dengkul? Itu saja dengkulnya Amien Rais. Maka jangan sepelekan dengkul sebagai simbol kenekatan yang beradab alias tidak rasis.
Untunglah, di balik baju kotak-kotak itu ada keberanian dan harapan, hingga menekatkan kami membangun keluarga baru. Dari sini cukuplah sudah sebuah alasan mengapa baju kotak-kotak Jokowi-Ahok begitu istimewa dan tak mungkin terlupa. Baju kotak-kotak itu telah melekat menjadi dokumen maha penting bagi kami. Surat nikah dengan foto berdua berbaju kotak-kotak! Alamak!
Mohon maaf, fotonya tidak kami sertakan dalam tulisan ini. Tidak enak saja melampirkan dokumen pribadi, selain ada ide nakal dari kami. Eeee…. siapa tahu, Pak Jokowi dan Pak Ahok kalau membaca kisah ini jadi penasaran ingin lihat dokumen kami. Pasti dengan senang hati kami tunjukkan. Terlebih lagi bila Pak Jokowi berkenan memberi hadiah sepeda kepada putera kami, Tantra Ardhanariswara Acintyabhakti yang September nanti berulang tahun.

Hahahaha… segera terbayang, alangkah senang bila putera kami menjadi bagian dari salah satu putera Ibu Pertiwi yang mendapat hadiah sepeda dari Presiden Jokowi. Sepeda yang menggambarkan perjuangan, harapan, semangat, keberanian dan cita-cita. Semoga setiap anak yang menerima hadiah sepeda dari Presiden Jokowi memberi inspirasi tentang keberanian berjuang dengan penuh semangat, mengayuh sepeda untuk mewujudkan cita-cita mulia.
Jokowi-Ahok dengan baju kotak-kotaknya adalah berkah bagi putera kami. Kelahiran putera kami pada zaman yang tepat. Ketika birokrasi pemerintahan DKI Jakarta sudah kena sentuhan magis Jokowi-Ahok. Maka, ketika kami mengurus dokumen akta kelahiran anak kami di Kecamatan Koja, Jakarta Utara benar-benar tanpa biaya. Lebih dari pada itu, iklim dan budaya pelayanan publik juga sudah berubah menjadi sangat simpatik. Aparatur Sipil Negara sebagai pelayan publik benar-benar nyata kala itu.
Akhirnya, bila seorang bocah dari Nanggulan, Kulonprogo, pada lima tahun lalu menyeru nama ‘Jokowi’ dengan bahasa kanak-kanaknya, kini terjawab sudah. Jokowi adalah berkah. Anak-anak yang polos dan lugu tahu persis akan hal itu. Ketika Jokowi jadi Presiden hal ini makin jelas kentara.

Jokowi hadir sebagai bapak, sebagai ayah bagi anak-anak Indonesia. Jokowi menemani mereka dengan bermain sulap. Jokowi mendampingi perkembangan psikologi mereka dengan membacakan cerita yang sarat makna. Jokowi menyemangati mereka meraih cita-cita dengan memberi hadiah sepeda. Hadiah yang mendorong anak-anak Indonesia bergerak lincah mengayuh sepeda.

“Pak, ini sepeda dari Pak Presiden Jokowi lho Pak…,” alangkah senang hati orang tua ketika mendengar seorang anak bilang seperti itu. “Pak, nanti kalau Pilpres pilih Pak Jokowi lagi ya Pak, biar makin banyak anak-anak mendapat hadiah sepeda dari Bapak Presiden Joko Widodo.”
0 Response to "Pak, Jokowi, Pak… Pak…, Jokowi Pak… "
Post a Comment