}); SKRIPSI EKONOMI - HIPPIWE .subscribe-wrapper { color : #fff; background: none repeat scroll 0% 0% #FF6C60 -->
loading...

SKRIPSI EKONOMI

BAB II
URAIAN TEORITIS

2.1.Pengertian Aktiva Tetap
            Penggolongan aktiva tetap sebenarnya dapatlah dipandang dari dua kelompok besar yaitu  aktiva tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud, pengklasifikasian di atas akan dititikberatkan pada pengetian  aktiva tetap berwujud pada pembahasan – pembahasan selanjutnya.
            Merupakan suatu  hal yang lazim  bila pembahasan teoritis akan dilengkapi dengan kutipan – kutipan atau defenisi – defenisi dari para ahli, hal diatas tidak terlepas juga pada diri penulis, misalnya saja defenisi  aktiva tetap berwujud yang dimiliki  oleh suatu perusahaan terdiri dari berbagai jenis, seperti tanah, bangunan, mesin – mesin, kendaraan dan alat – alat kanror lain sebagainya.
Standard Akuntansi Keuangan memberikan definisi aktiva tetap sebagai berikut :
Aktiva tetap sebagai berikut : Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun  lebih dahulu.  Yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan  untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.[1]


Menurut Warren-Reeven-Fees :
Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relative permanent, mereka merupakan  aktiva berwi\ujud (tangiable assets) karena terlihat secara fisik. Aktiva tersebut dimiliki dan digunakan  oleh perusahaan  serta tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai baigan  bagi dari operasi normal.[2]
           
            Dari kutipan diatas secara garis besarnya aktiva tetap merupakan suatu kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang pisiknya nampak (konkrit) karena dari alinea pertama disinggung bahwa aktiva berwujud, selain dari pada itu syarat lain dapat kita perhatikan untuk dapat diklasifikasikan atau dikelompokkan  sebagai aktiva tetap selain  aktiva itu  dimiliki perusahaan, juga harus  digunakan dalam operasi atau kegiatan usaha yang bersifat permanent atau tetap. Dan lagi aktiva tersebut mempunyai umur kegunaan  jangka panjang atau tidak akan habis dipakai dalam  satu periode kegiatan perusahaan, atau normal operasi.
            Pengertian atas aktiva tetap di atas sangatlah penting, hal ini bila tidak dimengerti dengan baik akan berpengaruh dalam laporan  keuangan, dimana laporan  keuangan menunjukkan angka dalam  rupiah yag kelihatannya bersifat pasti dan tetap, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan standard nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah, hal penting di atas dapat kita lihat dalam kutipan  sebagai berikut : “Aktiva tetap dapat diakui dan diterima jika memenuhi defenisi dan criteria pengakuan suatu aktiva dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan.[3]
            Jadi  jelas layaknya suatu penyajian laporan keuangan merupakan suatu syarat dalam standard akuntansi keuangan dan sekaligus memudahkan dalam proses  pengambilan keputusan karena penyususnan laporan keuangan yang konsisten.
            Sebenarnya  penyusunan laporan keuangan dibuat berdasarkan  konsep going concern atau beranggapan bahwa perusahaan atak berkembang apabila berjalan terus sehingga aktiva tetap dinilai berdasarkan  nilai histories  atau harga perolehannya dan pengurangannya terhadap aktiva tetap tersebut sebesar akumulasi depresiasinya.
            Adapun pengertian harga perolehan menurut Soemarso S.R. yaitu :
“Semua biaya yang terjadi untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai tiba ditempat dan siap digunakan harus dimasukkan sebagai bagian  dari harga perolehan  (cost) aktiva bersangkutan.”[4]
            Karena angka yang tercantum dalam  laporan keuangan  hanya dalam  merupalan nilai buku yang belum tentu sama dengan harga pasar sekarang maupun nilai gantinya.
            Dari pembahasan  di atas jelas bahwa penguasaan  atau pengertian  tentang aktiva tetap sangatlah penting, hal ini dapat menyesatkan  pembaca laporan keuangan bila pengertian aktiva tetap  tidak dikuasai dengan baik.
            Sebelum menganalisa dan menafsirkan suatu laporan keuangan. Seseorang penganalisa harus mempunyai pengertian yang mendalam tentang bentuk – bentuk maupun prinsip-prinsip penyusunan  laporan keuangan serta masalah – masalah yang mungkin timbul dalam penyusunan laporan tersebut.

2.2.Klasifikasi Aktiva Tetap
            Dari beberapa pengertian aktiva tetap sebagaimana diuraikan pada bab terdahulu maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa aktiva tetap titu terdiri dari :
1.      Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan dalam kegiatan usaha  perusahaan, misalnya sebagai lapangan, halaman parker dan lain sebagainya.
2.      Bangunan, baik bangunan kantor, took maupun bangunan untuk pabrik atau tempat proses produksi.
3.      Mesin-mesin, termasuk didalamnya mesin pengolahan dari barang atau bahan mentah diubah dan diproses menjadi barang jadi, mesin – mesin generator untuk pembangkit tenaga listrik.
4.      Inventaris kantor dan took, misalnya meja, lemari, arsip, mesin tik, computer dan berbagai perabot kantor lainya.
5.      Kendaraan dan perlengkapan  atau alat – alat lainnya, seperti misalnya truk – truk pengangkut barang, bus-bus untuk mengangkut pegawai dan mobil-mobil kecil dalam tugas penjualan atau kanvas ke pelosok-pelosok.
      Aktiva tetap  biasanya digolongkan  menjadi empat kelompok, yaitu :
1.      Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai  tempat berdirinya gedung-gedung perusahaan.
2.      Perbaikan tanah, seperti jalan-jalan di seputar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan, tempat parker, pagar dan saluran air di bawah tanah.
3.      Gedung, seperti gedung  yang digunakan untuk kantor, took, pabrik, dan gudang.
4.      Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan, dan meubel.[5]

            Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas  tidak dilakukan  penyusutan  terhadap harga perolehannya, sedangkan aktiva tetap yang umurnya terbatas dilakukan  penyusutan  harga perolehannya. Sebagai tambahan bilamana perusahaan memiliki suatu aktiva tetap berwujud tetapi tidak digunakan, misalnya tanah untuk tujuan expansi atai investasi jangka panjang  atau dapat dikelompokkan dalam  aktiva-aktiva yang lain.

2.3.   Perolehan Dan Penilaian AKtiva Tetap.
            Perolehan atas aktiva tetap dapat pula dianggap atau dikatakan sebagai harga pokok dari aktiva tetap itu, artinya nilai perolehan dari aktiva  yang dimaksud.
            Menurut  Soemarso dalam bukunya pengantar Akuntansi, biaya  perolehan aktiva tetap :
Semua biaya  yang terjadi untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai tiba di tempat dan siap digunakan harus dimasukkan sebagai bagian dari harga perolehan  (cost) aktiva bersangkutan. Dengan demikian harga perolehan suatu aktiva tetap tidak terbatas pada harga belinya saja. Termasuk dalam harga perolehan adalah biaya pengirimannya, asuransi, pemasangan, dan bea balik  nama.[6]

            Jadi dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa biaya-biaya yang berkenan dengan perolehan aktiva tetap, yang tidak meningkatkan kegunaannya tidak harus dimasukkan dalam perkiraan aktiva tersebut.
            Pengeluaran – pengeluaran yang timbul dari kelalaian  atau kesalahan – kesalahan  dalam pemasangan aktiva, yang timbul dari penggunaan  secara sembarangan, atau yang disebabkan  oleh kejadian – kejadian  abnormal lainnya tidak meningkatkan  kegunaan akttiva-aktiva itu karena itu harus dibebankan atau dialokasikan  sebagai biaya  pada periode itu. Walaupun aktiva tetap telah dperoleh, tetapi proses dari pengendalian yang wajar atas perolehan  aktiva tetap tersebut perlu diperhatikan.
            Masalah akuntansi  yang  timbul atas aktiva pada dasarnya sangat sederhana, tetapi beberapa saran seperti yang penulis kutip dari buku Controllership kiranya dapat dijadikan suatu perbandingan sebagai berikut :
1.      Semua aktiva tetap harus di identifikasikan, lebih baik pada saat aktiva diterima, suatu nomor seri dapat diberikan dan harus dibubuhkan pada aktiva yang bersangkutan.
2.      Mesin dan peralatan yang diserahkan kepada sesuatu departemen tertentu tidak boleh dipindahkan  tanpa ada persetujuan  mengenai pengawasan pisik aktiva tetap. Prosedur ini  perlu untuk mengetahui lokasi untuk tujuan – tujuan asuransi dan untuk  dapat membebankan depresiasi secara tepat.
3.      Aktiva  tetap apapun tidak boleh dikeluarkan dari perusahaan tanpa ada persetujuan oleha tasan yang berwewenang untuk itu.
4.      Secaraperiodik harus dilakukan opname fisik terhadap semua  aktiva tetap.
5.      Harus diselenggarakan  catatan – catatan  yang terperinci tentang setiap peralatan  atau golongan peralatan yang serupa.
6.      Bon permintaan  pembelian dan permintaan aprosiasi  harus diperiksa untuk memperoleh keyakinan, bahwa tidak ada usaha – usaha  untuk memecahkan  sesuatu pembelian  atau pengeluaran  menjadi bagian – bagian yang lebih kecil  agar dapat menghindarkan  keharusahan  untuk memperoleh persetujuan  dari esolan  yang lebih tinggi.
7.      Penjualan atau pengaktifan aktiva tetap  yang tjdak  dipergunakan lagi harus mendapatkan   persetujuan tertentu untuk menjaga terjualnya  aktiva tetap yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan  untuk departemen – departemen lain.
8.      Apabila mungkin,  harus diperoleh  penawaran  atas setiap  pembelian / perolehan yang besar.
9.      Harus dibuat  ketentuan untuk  pertanggunan asuransu yang wajar selama  konstruksi dan juga penyelesaian  aktiva tetap.
10.  Harus diperiksa secara teliti untuk mengurangi kemungkinan, bahwa sebagian  pengeluaran  investasi aktiva tetap dibebankan  menjadi ongkos sehingga dapat menghindarkan terjadinya pengeluaran yang melebihi anggaran atau apropriasi [7]

            Jadi jelasnya bahwa  perolehan aktiva tetap perlu didukung oleh adanya pengawasan atas aktiva  tetap tersebut diantaranya dengan menyelenggarakan  pencatatan – pencatatan, catatan – catatan  aktiva tetap  yang cukup merupakan suatu perlengkap yang perlu abgi pengendalian bagi pengendalian yang efektif.
            Dalam praktek kita jumpai bermacam – macam cara untuk memperoleh aktiva tetap, seperti yang  dapat penulis kutip dalam buku dasar – dasar Akuntansi, dapat diuraikan  sebagai berikut :
            Aktiva tetap yang  dipergunakan dalam operasi perusahan diperoleh melalui :
1.      Pembelian berdasarkan kontrak pembayaran ditangguhkan.
2.      Perolehan melalui pembelian tunai.
3.      Perolehan melalui  penukaran aktiva non moneter.
4.      Perolehan melalui penerbitan sekuritas.
5.      Perolehan dengan membangun sendiri.
6.      Perolehan dengan pemberian atau penemuan.[8] 

Ad.1. Pembelian berdasarkan  kontrak pembarayan  ditangguhkan.
            Apabila aktiva tetap diperoleh dari pembayaran ditangguhkan (pembelian angsuran), maka dalam  harga perolehan aktiva tetap tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa angsuran baik jelas-jelas dinyatakan maupun yang tidak dinyatakan tersendiri, harus dikeluarkan dari harga perolehan dan dibebankan sebagai biaya bunga.

Ad. 2. Perolehan melalui pembelian Tunai.
            Dari pengertian tunai di atas dapat dijelaskan  bahwa bilamana suatu aktiva tetap itu diperoleh dengan pembelian secara tunai, yang mana meliputi keseluruhan pengorbanan sehubungan dengan aktiva tetap itu sampai dapat dipakai. Jadi aktiva tetap tersebut termasuk d didalamnya semua biaya yang dikeluarkan agar aktiva tersebut siap dipakai seperti ongkos angkut, premi asuransi, biaya pemasangan dan sebagainya.
            Apabila  dalam pembelian aktiva tersebut ada potongannya, maka potongan  tunai  tersebut  merupakan pengurangan dari  harga faktur/harga pembelian tersebut.
            Sebagai contoh pembelian atas sebuah mesin, maka cost  dari   mesin itu akan terdiri dari :
a.       Harga faktur pembelian
b.      Ongkos pengangkutan
c.       Ongkos pemasangan
d.      Ongkos percobaan
e.       Dan lain sebagainya.
Misalnya : perusahaan membeli sebuah mesin dengan pembayaran tunai sebagai berikut :
-          Harga mesin                                     Rp.          25.000.000,-
-          Biaya angkut                                    Rp.                 50.000,-
-          Biaya Pemasangan                           Rp                  25.000,-
-          Biaya percobaan                               Rp                  25.000,-
Dibayar tunai                       Rp.          25.100.000,-
Jurnal :    Tanah                                            Rp.    25.100.000,-                             -
                     Kas                                                                       -   Rp. 25.100.000,-
            Apabila dalam satu pembelian  yang dilakukan  oleh perusahaan, diperoleh lebih dari satu macam aktiva tetap. Maka harga perolehan harus dialokasikan pada masing – masing aktiva  dapat dinyataka  dengan jelas maka pengalokasiannya juga berdasarkan harga  yang  sebenarnya.
Contoh :    Tanah, gedung dan mesin dibeli dengan harga Rp. 80.000.000,- taksiran umur  untuk masing – masing aktiva tetap berwujud dilaporkan atas dasar pajak kekayaan  sebagai dasar untuk alokasi harga secara adil.

TABEL 2.1.
KLASIFIKASI AKTIVA TETAP
Aktiva tetap
Taksiran Nilai
Alokasi Harga Perolehan
Harga perolehan yang digunakan
Tanah
Gedung
Mesin
14.000
30.000
6.000
(14 : 50) x 80.000
(30 : 50) x 80.000
(6 : 50) x 80.000
Rp. 22.400
Rp. 78.000
Rp. 9.000

50.000

Rp. 80.000

Sumber :    Jay M. Smith dan K. Fred Skousen, Intermediate Accounting, 9th Edition, Terjemahan Tim PEnerjemah Erlangga, Jilid I, Cetakan Kesembilan, Erlangga Jakarta, 2008, Hal 445.

Jurnal :    Tanah                                            Rp.    22.400.000,-                             -
               Gedung                                         Rp.    48.000.000,-                             -
               Mesin                                            Rp.      9.600.000,-                             -  
                     Kas                                                                       -   Rp. 80.000.000,-

Ad.3. Pembelian melalui  penukaran aktiva non – moneter
            Dalam pembelian  aktiva tetap dilakukan dengan  cara tukar menukar, atau sering disebut “tukar tambah” . apabila  aktiva lama  digunakan untuk membayar harga aktiva baru, baik seluruhnya dan sebagian  dimana kekurangannya dibayar tunai. Dalam keadaan  seperti ini, prinsip harga perolehan tetap harus digunakan  yaitu aktiva baru dikapitalisasikan dengan jumlah sebesar harga pasar aktiva baru yang diterima. Pertukaran ini dapat dibagi lagi atas :

a.       Pertukaran aktiva tetap yang tidak sejenis
Yang dimaksud dengan  pertukaran aktiva tetap  yang tidak sejenis adalah pertukaran aktiva tetap yang sifat dan fungsinya tidak sama seperti pertukaran tanah dengan mesin-mesin, tanah  dengan gedung, dan lain – lain. Penentuan harga eproleha dalam pertukaran seperti ini harus didasarkan pada harga pasar aktiva tetap yang diserahkan ditambah uang yang dibayarkan. Bila harga pasar aktiva  yang diserahkan tidak dapat diketahui, maka harga perolehan aktiva baru didasarkan  pada harga pasar aktiva baru. Apabila dalam pertukaran aktiva tersebut ternyata harga pasar lebih tinggi dari nilai sisa aktiva  tetap yang ditukarkan, maka selisih tersebut dicatat sebagai laba pertukaran, dan apabila harga pasar lebih rendah dari nilai sisa aktiva tetap, maka selisih tersebut dicatat sebagi rugi pertukaran.
b.      Pertukaran Aktiva tetap yang sejenis.
Yang dimaksud dengan pertukaran aktiva tetap yang sejenis adalah pertukaran  aktiva tetap yang sifat dan fungsinya sama seperti pertukaran mesin produksi merk A dengan mesin Produk merk B. dalam hubungannya  dengan aktiva tetap yang sejenis, laba yang timbul akan ditangguhkan (mengurangi harga perolehan aktiva yang bersangkutan) dalam hal pertukaran dengan aktiva sejenis. Apabila pertukaran tersebut menimbulkan kerugian maka ruginya dibebankan dalam periode terjadinya pertukaran.
Ad. 4. Perolehan melalui penerbitan sekuritas.
            Perusahaan  dapat memperoleh aktiva tetap dengan mengeluarkan  surat –surat  berharga saham maupun obligasi, dalam hal ini, harga perolehan aktiva tetap dicatat sebesar nilai pasar  dari surat berharga tersebut.
            Jadi obligasi dan sahak dijual dengan harga yang lebih tinggi atau rendah dari nilai nominalnnya, maka selisih atau kurang tersebut dicatat sebagai agio dan disagio. Dalam hal nilai pasar surat berharga tidak tersedia, maka nilai aktiva tetap  yang diperoleh harus dicari untuk menentukan harga perolehan aktiva tetap.

Ad. 5. Perolehan dengan membangun sendiri.
            Adakalanya perusahaan membangun sendiri aktiva tetap yang dibutuhkan dengan alas an menginginkan  mutu tertentu, penghematan dan  pengejaran suatu batas waktu tertentu. Pada perinsipnya  harga pokok dari aktiva tetap yang dibuat sendiri meliputi semua pengorbanan biaya yang terjadi dalam  rangka pembuatan aktiva tetap, sampai digunakan. Apabila biaya pembauatan aktiva tetap tersebut lebih rendah  daru harga seandainya dibeli atau dibuat oleh pihak luar, maka harga pokoknya akan dibuat sebesar biaya pembangunan dan penghematan  tersebut tidak boleh dianggap sebagai laba. Akan tetapi bila biaya pembuatan  aktiva tetap tersebut lebih tinggi dari harga pasar yang berlaku, maka aktiva tersebut dicatat sebesar nilai  pasar yang berlaku dan pemborosan tersebut dicatat sebagai kerugian.
Ad. 6. Perolehan dan pemberian  atau penemuan
            Aktiva tetap yang  diperoleh dari hadiah atau donasi, pencatatannya dapat dilakukan menyimpang dari prinsip  harga perolehan. Untuk menerima hadiah, mungkin dikeluarkan  biaya – biaya. Apabila aktiva dicatat sebesar biaya  yang sudah dikeluarkan, maka hal ini akan menyebabkan jumlah aktiva dan  modal terlalu kecil, juga beban depresiasi menjadi terlalu kecil. Untuk mengatasi keadaan ini maka aktiva yang diterima ini belum pasti akan menjadi milik perusahaan maka aktiva dan modal dicatat sebagai elemen  yang belum pasti (contingent). Bila hak atas tersebut sudah diterima maka barulah contingent assets tadi dicatat sebagai harta (aktiva).

2.4.Capital Expenditure dan Revenue Expenditure
            Sebagaimana kita ketahui bahwa perusahaan mengadakan investasi dalam aktiva tetap adalah juga dengan harapan  perusahaan akan memperoleh kembali dana yang diinvestasikan tersebut, baik investasi dalam aktiva lancer maupun  investasi dalam aktiva tetap atau plant equipment.
            Perbedaan terletak dalam jangka waktu dan cara kembalinya dana yang diinvestasikan dalam kedua golongan aktiva tersebut, dalam buku – buku pengantar Akuntansi dapat dikutip defenisinya sebagai berikut :
Pengeluaran  modal  pengeluaran – pengeluaran yang harus dicatat sebagai aktiva (dikapitalisir), pengeluaran –pengeluaran yang akan mendatangkan manfaat lebih dari suatu periode akuntansi termasuk dalam kategori ini, demikian juga halnya dengan pengeluaran – pengeluaran yang akan menambah efesiensi, memperpanjang umur aktiva atau meningkatkan kapasitas atau mutu produksi.
Sedangkan pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran – pengeluaran yang hanya mendatangkan manfaat untuk tahun di mana pengeluaran tersebut dilakukan. Oleh karena itu, pengeuaran  pendapatan akan  dicatat sebagai beban, pengeluaran untuk pemeliharaan dan perbaikan  rutin merupakan contoh sejenis pengeluaran ini [9]

            Bila dilihat dari besar kecilnya suatu pengeluaran maka dalam prakteknya akan timbul kesulitan karena ukuran besar kecilnya suatu pengeluaran adalah sangat subjektif dan penggolongan suatu expenditure berdasarkan manfaatnya juga akan mengalami kesulitan. Karena   hal – hal di atas pengeluaran  yang digolongakan sebagai capital expenditure harus memenuhi 3 persyaratan sebagai berikut :
  1. Manfaat lebih dari satu tahun.
  2. Jumlah relative besar dibandingkan dengan plant equipmentnya
Misalnya : diatas 20 %
  1. Bukan pengeluaran rountine (tidak sering terjadi)
            Selanjutnya  apabila ada expenditure yang tidak memenuhi ketiga – tiga syarat di atas, maka haruslah dicatat sebagai revenue expenditure.
            Dari gambaran – gambaran di atas di ketahui bahwa di samping  biaya perolehan suatu aktiva tetap,  biaya lainnya yang berhubungan dengan effesiensi atau kapasitas aktiva ini dapat dibiayai/dikapitalisasikan  selama umur ekonominya. Biasanya sulit  untuk menetapkan  perbedaan antara pengeluaran – pengeluaran,  yang meningkatkan kegunaan untuk lebih dari pada satu periode akuntansi dan pengeluaran – pengelauran , yang hanya memberikan kegunaan  untuk satu periode dimana pengeluaran – pengeluaran ini terjadi.
           
2.5.Pengertian  Penyusutan dan Metode Penyusutan
            Penyusutan atau dikenal juga dengan depresiasi adalah sebagai dari harga perolehan aktiva tetap yang secara sistematis dialokasikan menjadi setiap periode akuntansi.
            Secara sederhana Heckert merumuskan arti penyusutan  berdasarkan kamus sebagai “Penurunan  dalam nilai suatu harga  yang disebabkan  pemakaian dan kerusakan, kekunoan karena faktor ekonomi dan ketidakcukupan, atau bekerjanya berbagai unsur itu secara sekaligus”.[10]
            Dalam  buku Standard Akuntansi Keuangan memberikan defenisi penyusutan sebagai berikut :
“Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang  diestimasi. Penyusutan  untuk periode akuntansi  untuk dibebankan ke pandapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.[11]
            Dari kutipan di atas jelas bahwa akuntansi  depresiasi bukannya suatu proses penilaian aktiva atau prosedur pengumpulan dana  untuk menggantikan aktiva, tetapi adalah suatu metode untuk mengalokasikan harga perolehan aktiva tetap ke periode –periode akuntansi.
            Jika suatu biaya tetap seluruhnya dapat disusutkan jejaknya ke dalam suatu keputusan  khusus dan hanya akan terjadi jika keputusan  tersebut dilakukan, biaya tersebut merupakan  biaya relevan. Depresiasi berhubungan erat dengan pengambilan  keputusan  jangka panjang  dan hanya dapat dipengaruhi pada saat keputusan penanaman modal di ambil. Dalam pengambilan keputusan  jangka pendek biaya depresiasi tidak relevan  dan dapat diabadikan.
            Pengertian penyusutan  atau depresiasi di atas akan berbeda bila ditinjau dari sudut pandang yang berlainan. Hal ini karena terletak pada masalah  dengan kaca mata apa kita melihat, misalnya saja kita kaitkan dengan benefit  dan cost  analisis. Yang menjadi persoalan  adana bagaimana  menghitung selisih antara benefit dan cost itu, karena perusahaan pada lazimnya akan berjalan (beroperasi) tidak dikenal  dalam benefit – cost-analisis.
            Penyusutan merupakan biaya yang ditimbulkan karena itu sertanya aktiva dalam proses  produksi untuk lebih dari satu masa proses. Maka dari itu dasar penyusutan yang tetap harusnya memperhatikan  masa kehidupan ekonomi aktiva tersebut. Teoritis  banyak sekali system-sistem penyusutan, akan tetapi dalam praktek yang termudah adalah system  rata-rata selama  masa produktifitas aktiva tersebut. Terlepas dari mudah tidaknya penerapan suatu metode penyusutan  dalam praktek sehari – hari, penulis akan  mengutip beberapa metode-metode penyusutan  yang akan dibahas kemudian.
            Pada umumnya  oenggunaaan aktiva tetap dilakukan secara terus menerus, dengan demikian proses pencatatannya juga dapat dilakukan secara terus menerus. Akan tetapi cara pencatatan yang   demikian mempunyai  kelemahan, yaitu pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Untuk mengindari adanya pemborosan tersebut maka  pencatatan depresiasi dapat dilakukan secara periodic yaitu melalui jurnal penyesuaian  pada tiap-tiap akhir periode.
            Setelah kita  mengetahui arti dari penyusutan  bagaimana pencatatannya, yang menjadi perhatian sekarang adalah apa sebab terjadinya depresiasi, atau dengan  kata lain bahwa masa manfaat dari aktiva tetap kecuali tanah adalah terbatas,  yang berarti aktiva tetap tersebut mengalami penurunan kegunaan.
            Faktor -  faktor  yang menyebabkan penurunan  kegunaan aktiva tetap dapat dibagi dalam dua kategori yaitu : depresiasi fisik yang mencakup keuangan karena pemakaian dan keausan  karena gerakan – gerakan elemen – elemen, dan depresiasi fungsional yang meliputi ketidak layakan (inadequancy) dan ketinggalan jaman (obsolencence).
            Jadi dengan sebab – sebab  depresiasi maka akan menjadi lebih jelas lagi apabila kita dapat mengetahui faktor – faktor dalam menentukan biaya depresiasi.
            Ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan beban depresiasi setiap periode, adapun faktor – faktor yang dimaksud adalah : “a) Biaya awal  aktiva tetap, b) Umur manfaat yang diperkirakan, c) estimasi nilai pada akhir umur manfaat”[12] Faktor  terakhir ini dinamakan  dengan nilai residu (residual value), nilai sampingan/rongsokan (scrap value), nilai sisa (savage value), atau nilai pertukaran (trade in value).
            Nilai sisa (salvage value) aktiva tetap pada  akhir umur manfaat harus diestimasikan  pada saat aktiva tersebut mulai dipakai. Jika suatu aktiva tetap diperkirakan hanya memiliki sedikit nilai sisa atau bahkan tidak sama sekali, maka biaya awalnya harus dialokasikan  seluruhnya sepanjang umur manfaat yang diperkirakan  sebagai penyusutan. Namun, jika  aktiva tetap diperkirakan  memiliki nilai sisa signifikan, maka selisih antara awal dengan nilai sisa, yang dinamakan  biaya yang dapat disusutkan (deoreciabel cost), adalah jumlah yang harus disebarkan sepanjang umur manfaat aktiva sebagai beban penysutan.
Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan mernurut criteria berikut :

a.      Berdasarkan waktu :
1.   Metode garis lurus (straight line methode)
2.   Metode pembebanan yang  menurun.
a)      Metode jumlah angka tahunan (sum of the years digit method)
b)     Metode saldo menurun/saldo menurun  ganda (declining/double deolining method)
b.      Berdasarkan penggunaan
1.  Metode jam jasa (service hourse methode)
2.   Metode jumlah unit produksi (Proctive output method)
c.       Berdasarkan criteria lainnya :
1.   Metode anuitas (Annuity method)
2.   System persediaan (inventory system)[13]

Ad. a.1. Metode  Garis Lurus (Straight line methode)
            Metode ini biasanya juga disebut sebagai metode garis lurus mendatar karena dengan memakai metode ini, besarnya depresiasi sama setiap tahunnya.
Contoh : 
Sebuah mesin diperoleh dengan harga Rp. 1.000.000,-, ditaksir dapat dipakai 10 tahun , dan nilai residu Rp. 100.000,- berapakah besarnya depresiasi setiap tahun.

Besarnya depresiasi setiap tahun :
=
=
= Rp. 90.000,-

Ad. a.2.a). Metode Jumlah Angka Tahun (sum of the years digit method)
Menurut  metode ini biasanya  penysutan setiap tahun semakin kecil.
Contoh: 
Perolehan  mesin seharga Rp. 1.500.000,- ditaksir dapat dipakai 5 tahun Berapakah besarnya penysutan setiap tahun ?

Besarnya penyusutan  setiap tahun adalah sebagai berikut :
5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 15
Penyebut      =
                     =
                     =
                     = 15

Tahun 1.5 / 15 x Rp. 1.500.000,- = Rp     500.000,-
Tahun 2.4 / 15 x Rp. 1.500.000,- = Rp     400.000,-
Tahun 5.1 / 15 x Rp. 1.500.000,- = Rp     100.000,-

Ad. a. 2.b). Metode Saldo Menurun (declining balance methode)
            Menurut  metode ini  besarnya penyusutan  tiap tahun dihitung dengan mengalihkan suatu persentarse yang tetap dengan nilai bukunya. Besarnya  persentase dihitung dengan rumus :
Persentase  =
Contoh :   
Harga perolehan sebuah mesin pada tahun 1995  sebesar Rp. 10.000.000,- ditaksir dapat dipakai 5 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 500.000,- Berapakah besarnya depresiasi pada tahun pertama ?
Persentase       =
                        = 1 – 0,55
                        = 0,45 x 100 %
                        = 45 %
Besarnya depresiasi  tahun 1995 adalah :
= 45 % x Rp. 10.000.000,-
= Rp. 4.500.000,-

Metode saldo menurun ganda (double declining balance method)
            Menurut  metode ini  besarnya depresiasi setiap dihitung dari nilai buku awal periode dan di dalam metode ini sebenarnya tidak diperlukan  adanya nilai residu, karena metode ini tidak memungkinkan   dapat menghabiskan costnya  untuk depresiasi. Jadi depresiasinya dapat dihitung dengan persentase tetap yakni 2 x metode garis lurus.
Contoh  :
Harga perolehan  sebuah mesin Rp. 10.000.000,- ditaksir dapat dipakai 5 tahun. Berapakah besarnya depresiasi setiap tahun jika depresiasi dua kali lipa dari 20 % yakni 40 %?

         Perhitungan biaya depresiasi ditunjukkan pada table berikut ini.





TABEL 2.2.
PERHITUNGAN PENYUSUTAN - METODE SALDO MENURUN GANDA
(DOUBLE DECLINING BALANCE METHOD)
Tahun
Cost
%
Jlh depresiasi Per tahun
Nilai Buku
1
2
3
4 ( 3 x 2 )
2 – 4
1
2
3
4
5
Rp.     10.000,-
Rp.     10.000,-
Rp.     10.000,-
Rp.     10.000,-
Rp.     10.000,-
40 %
40 %
40 %
40 %
40 %
Rp.       4.000,-
Rp.       2.400,-
Rp.       1.440,-
Rp.          864.-
Rp.       1.296,-
Rp.      6.000,-
Rp.      3.600,-
Rp.      2.160,-
Rp.      1.296.-
Rp.             0

Sumber :        Jay M. Smith dan K. Fred Skousen, Intermediate Accounting, 9th Edition, Terjemahan Tim PEnerjemah Erlangga, Jilid I, Cetakan Kesembilan, Erlangga Jakarta, 2008, Hal 453.

Ad.b.1. Metode Jam Jasa (service hourse method)
            Menurut  metode ini besarnya depresiasi tiap periode bergantung kepada beberapa jam lamanya aktiva tetap tersebut dipergunakan dalam operasi perusahaan selama periode tersebut.
Contoh :   
Perolehan pesawat terbang Rp. 50.000.000,- ditaksir dapat diterbangkan 500.000 jam. Pada yang bersangkutan  telah diterbangkan 2.000 jam. Berapakah penyusutan  pada tahun tersebut ?

Penyusutan pada tahun tersebut adalah sebagai berikut :
=
= Rp. 200.000,-


Ad.b.2. Metode Jumlah Unit Produksi (Output Method)
            Menurut metode diperoleh dengan Rp. 4.000.000,- ditaksir setiap tahun karena didasarkan kepada hasil produksinya.
Contoh :      
Sebuah mesin diperoleh dengan Rp. 4.000.000,- ditaksir dapat memproduksi sebanyak 500.000 unit, tahun berjalan mesin tersebut  sudah memproduksi 1.000 unit. Depresiasi pada tahun  yang bersangkutan adalah :

=
=
= Rp. 8.000,-

Ad.c.1. Metode Anuitas.
            Metode depresiasi anuitas dan bunga majemuk adalah metode pembebanan  depresiasi dengan menggunakan konsep perhitungan majemuk dan anuitas. Metode ini digunakan untuk aktiva tetap perusahaan jasa umum dan areal estate. Metode ini membebankan  beban depresiasi yang semakin lama semakin besar.

Ad.c.2. Metode Sistem Persediaan
            Metode ini digunakan untuk depresiasi aktiva berupa peralatan – peralatan dan perlengkapan kecuali, yang selalu ditambah setiap tahun karena ada sebagian yang sudah harus diberhentikan. Metode ini menggunakan depresiasi dengan cara taksiran nilai aktiva pada awal periode ditambah pembelian aktiva tetap yang bersangkutan selama periode tersebut dikurangi  dengan nilai aktiva tetap yang masih ada pada akhir periode.
Contoh :   
Ikhtisar pembelian – alat kerja bukan mesin, yang diketahui rusak/cacat dan  tidak dapat dipakai lagi dalam kegiatan produksi dalam setiap tahun, serta taksiran nilai alat-alat kerja bukan mesin sesuai dengan kondisi fisiknya pada setiap akhir tahun selama tiga sebagai berikut :

TABEL 2.3.
TAKSIRAN ALAT – ALAT KERJA BUKAN MESIN

Tahun
Pembelian
Penjualan
Taksiran Nilai aktiva pada akhir tahun
2012
2011
2012
Rp.    3.000.000,-
Rp.       750.000,-
Rp.       500.000,-
Rp.         250.000,-
Rp.         200.000,-
Rp.         250.000,-
Rp.      2.500.000,-
Rp.      2.750.000,-
Rp.      2.800.000,-
Sumber :        Jay M. Smith dan K. Fred Skousen, Intermediate Accounting, 9th Edition, Terjemahan Tim PEnerjemah Erlangga, Jilid I, Cetakan Kesembilan, Erlangga Jakarta, 2008, Hal 461.

            Maka depresiasi alat-alat kerja bukan mesin yang dihitung menurut system persediaan pada setiap tahnnya, dapat dihitung sebagai berikut :
TABEL 2.4.
PERHITUNGAN BIAYA PENYUSUTAN ALAT – ALAT KERJA BUKAN MESIN
METODE SISTEM PERSEDIAAN

Tahun
Nilai aktiva yang ditempat pada awal tahun
Pembelian dalam tahun
Jumlah aktiva yang ditempatkan
Transaksi nilai akhir tahun
Penurunan nilai aktiva
Penjualan aktiva  yang cacat/rusak
Depresiasi aktiva
(1)
(2)
(3)
 (2) + (3)
(4)
(6) = 4 – 5
(7)
(8) =  6 - 7
2012
2011
2012
-2.500.000
2.750.000
3.000.000
750.000
500.000
3.000.000
2.750.000
3.250.000
2.500.000
2.750.000
2.800.000
500.000
500.000
450.000
250.000
200.000
250.000
250.000
300.000
200.000
Sumber :        Jay M. Smith dan K. Fred Skousen, Intermediate Accounting, 9th Edition, Terjemahan Tim PEnerjemah Erlangga, Jilid I, Cetakan Kesembilan, Erlangga Jakarta, 2008, Hal 461.

Jurnal :    Kas                                                         Rp.      250.000,-                             -
               Depresiasi alat kerja bukan mesin          Rp.      250.000,-                             -
                           Alat kerja bukan mesin                                        -        Rp. 500.000,-

            Dalam  akuntansi terdapat  konsep dasar yang menyatakan : Konsisten di antara periode – periode untuk kesatuan usaha yang bebas, ini berarti jika suatu perusahaan sudah memilih suatu metode tertentu hendaknya diterapkan secara konsisten dari satu tahun ke tahun berikutnya.
            Berdasarkan  uraian di atas, metode yang manapun dipilih untuk digunakan dalam suatu perusahaan, yang penting konsisten atas metode yang dipilih harus tetap dilaksanakan sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
            Namun demikian ini tidak berarti tidak diperkenankan untuk merubah sesuatu metode, tetapai diperkenanankan dengan syarat harus dijelaskan dasar alasana perubahan metode, tersebut dan pengaruh dari perubahan  metode tersebut terhadap laporan keuangan yang disajikan.
            Perubahan metode tersebut merupakan koreksi pembukuan supaya dapat mencerminkan keadaan sebenarnya. Adapun koreksi pembukuan yang berhubungan dengan depresiasi aktiva tetap berwujud adalah :
  1. Koreksi pembukuan karena perubahan “Prinsip Akuntansi”. Perubahan  kebijakan terhadap penggunaan metode depresiasi yang satu dengan metode lainnya, adalah merupakan salah satu contoh perubahan prinsip akuntansi. Koreksi pembukuan dilakukan dengan cara membuat penyesuaian terhadap selisih antara saldo  akumulasi depresiasi sampai tanggal terjadinya  perolehan metode depresiasi yang dihitung menurut  metode terdahulu dengan perhitungan menurut metode yang baru. Selisih akumulasi depresiasi tersebut dicatat sebagai “koreksi depresiasi aktiva” dan dilaporkan dalam rugi laba untuk periode terjadinya metode tersebut di bawah kelompok laba (rugi) luar biasa.
  2. Koreksi pembukuan  karena perubahan  taksiran umur atau nilai sisa.
Perubahan taksiran di dalam  akuntansi di akui sebagai akibat adanya  ketidakpastian yang ada umumnya sangat dipengaruhi  oleh keadaan –keadaan, yang tidak dapat dikuasai oleh manajemen. Oleh karena,  itu koreksi pembukuan sebagai  akibat perubahan taksiran  harus diperlakukan  dan diperhitungkan  pada periode akuntansi yang akan datang, serta tidak perlu dilakukan perhitungan  kembali dan koreksi pembukuan untuk periode – periode akuntansi yang telah lampau.
  1. Koreksi pembukuan karena adanya kekeliruan perlakukan akuntansi terhadap pengeluaran modal.
Depresiasi aktiva berwujud merupakan alokasi harga perolehan aktiva tetap keapda peiode-periode yang memeberikan  manfaat dari aktiva tetap yang bersangkutan. Depresiasi tidak akan dilakukan jika tidak terdapat  pengakuan adanya suatu transaksi pengeluaran modal terlebih dahulu. Oleh karena itu bila terjadi  kesalahan dalam menentukan suatu transaksi  apakah termasuk pengeluaran modal atau pengeluaran penghasilan akan berakibat kekeliruan dalam menentukan beban depresiasinya. Kekeliruan penentuan dalam pengeluaran modal dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya, dan tidak berlaku satu periode akuntansi saja, melainkan selama pengeluaran modal tersebut masih memberikan manfaat.

2.6.Penghapusan Aktiva Tetap
            Pada saatnya kelak suatu aktiva tetap harus diperhatikan dari pemakainya. Berbagai keadaan dan alasan perusahaan  memberhentikan aktiva tetapnya antara lain  adalah : Penjualan aktiva tetap, pertukaran, kerusakan dan kehancuran maupun disumbangkan  kepada pihak lain. Apabila aktiva tetap diberhentikan  dari pemakaiannya, maka rekening – rekening  pembukuan aktiva tetap yang bersangkutan harus ditutup.
            Pemberhentian aktiva tetap akibat penjualan ataupun pertukaran ketika masih mempunyai nilai ekonomis, maka selisih harga jual atau pertukarannya  dengan aktiva lainnya dengan nilai buku  aktiva yang bersangkutan harus diperlukan sebagai laba atau rugi.
Contoh :   
Sebuah mobil dibeli pada tanggal 1 Maret 2008 dengan harga perolehan RP. 5.000.000,- titaksir dapat dipakai 5 tahun, nilai residu Rp. 200.000,-. Pada tanggal 1 November 2012 dapat dijual Rp. 650.000,-. Metode depresiasi yang dipergunakan adalah metode garis lurus.

Maka transaksi penjualan mobil dapat dicatat sebagai berikut :
               Kas                                                         Rp.      650.000,-                             -
               Akumulasi Penyusutan Mobil                Rp.   4.400.000,-
                           Gedung                                                                -     Rp. 5.000.000,-
                           Laba penjualan mobil                                           -   Rp.        50.000,-
Hasil perhitungan sebagai berikut :
Harga jual                                                              Rp.         650.000,-
Harga perolehan                   Rp.   5.000.000,-
Akumulasi depresiasi :
2008 – 9 bulan                     Rp.    (720.000,-)
2009 – 12 bulan                   Rp.    (960.000,-)
2010 – 12 bulan                   Rp.    (960.000,-)
2011 – 12 bulan                   Rp.    (960.000,-)
2012 – 10 bulan                   Rp.    (800.000,-)
Nilai buku                                                             Rp.         600.000,-
Laba penjualan aktiva tetap                      Rp.      50.000,-

            Pemberhentian  aktiva tetap akibat kehancuran atau kerusakan  dan bencana alam lainnya seperti kebakaran. Apabila kerusakan  atau kehancuran  terdapat sebagian atau keseluruhan  akibat yang tidak diasuransikan, maka kerugian  tersebut harus diakui sebesar nilai buku aktiva atau bagian aktiva yang rusak tersebut. Seperti pada soal di atas pada tanggal 1 November 2012 terjadi kebakaran, maka jurnal yang dapat dicatat :
               AKumulasi penyusutan mobil                Rp.   4.400.000,-                             -
               Kerugian atas kerusakan                        Rp.      600.000,-
                           Aktiva tetap                                                         -   Rp.   5.000.000,-
           
            Dan apabila  kerusakan  atau kehancuran   itu terjadi pada aktiva – aktiva yang diasuransikan, maka  kerugian tersebut akan  mendapat ganti rugi dari  perusahaan  asuransi. Laba  atau rugi karena kecelakaan tersebut harus diperhitungkan . laba akan terjadi apabila nilai buku aktiva tetap  yang hilang dari kecelakaan  lebih rendah dibandingkan  nilai ganti rugi dan sebaliknya rigi terjadi apabila nilai ganti rugi lebih besar dari nilai buku aktiva tetap yang hilang karena kecelakaan. Seperti contoh di atas apabila perusahaan  asuransi memberikan ganti rugi sebesar Rp. 625.000,- maka jurnal  yang dapat dicatat sebagai berikut :
               Piutang pada asuransi                            Rp.      625.000,-                             
                           Kerugian Kerusakan                                                Rp.      600.000,-
                           Laba akibat kerusakan                                             Rp.        25.000,-
            Dan apabila perusahaan mengeluarkan  aktiva tetap untuk tetap untuk sumbangan, maka rekening sumbangan, harus didebet atas dasar harga pasa aktiva tetap yang disumbangkan, kemudian diperhitungkan laba atau rugi pengeluaran aktiva tetap untuk sumbangan tersebut.  Rekening sumbangan didalam laporan laba rugi disajikan sebagai beban non operasional. Seperti contoh di atas mobil tersebut disumbangkan pada tanggal 1 Januari 2010. harga pasar mobil Rp. 3.000.000,-, jurnal yang dapat dibuat :
               Biaya sumbangan                                   Rp.   3.000.000,-                             
               Akumulasi penyusutan                           Rp.   1.680.000,-
               AKerugian akibat sumbangan                Rp.      320.000,-
                           Mobil                                                                   -   Rp.   5.000.000,-

2.7.Penyajian Aktiva Tetap di Neraca
            Aktiva tetap disajikan dalam neraca sebelah debet di bawah kelompok aktiva lancer. Sedangkan untuk beban  penyusutan per tahun  dicatat sebagai biaya operasi dalam laporan laba rugi. Dalam menyajikan  aktiva tetap di necara  dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari total harga perolehan aktiva ketika aktiva tersebut pertama kali dibeli dan dari kemampuan untuk memberikan sumbangan dari aktiva tersebut. (harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan).
            Aktiva disajikan sebesar harga  perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dari aktiva itu. Untuk cara yang kedua, aktiva yang disajikan merupakan  nilai buku yang telah dikurangi dengan akumulasi penyusutan.
            Pemilih cara penyajian  aktiva seperti yang diuraikan  di atas tergantung kepada siapa neraca tersebut ditunjukkan. Berikut ini akan ditunjukkan contoh dari penyajian  aktiva di neraca.
            Contoh neraca yang disajikan  nilai aktiva sebesar harga perolehannya sebagai berikut :
TABEL 2.5.
PT. MAJU
NERACA
PER 31 DESEMBER 200A
AKTIVA
KEWAJIBAN DAN MODAL

Aktiva Lancar :
Kas
Surat Berharga
Piutang Wesel
Piutang Dagang
Persediaan barang Dagangan
Perlengkapan
Asuransi Dibahar Dimuka

Rp.   18.590
4.000
2.000
2.370
15.000
830
650
Kewajiban Lancar :
Hutang Wesel
Hutang Dagang
Hutang Bank
Hutang Gaji
Hutang Bunga

Rp.       1.500
8.415
50.000
290
195
Total Kewajiban Lancar
Rp.     60.310
Kewajiban Jangka Panjang :
Hutang Obligasi

Rp.   100.000
Total Aktiva Lancar
Rp.   43.440


Investasi Jangka Panjang

Aktiva Tetap
Tanah
Gedung
Peralatan
(Akumulasi Penyusutan)

Rp.   20.000


Rp.   20.000
130.000
7.950
(9.270)
Total Kewajiban
Rp.   160.310

Moodal :
Modal Disetor
Laba Ditahan


Rp.    40.000
11.810
Total Aktiva Tetap
Rp. 148.680
Total Modal
Rp.   51.810

Total Aktiva
Rp. 212.120
Total Kewajiban dan Modal
Rp. 212.120

Sumber :    Soemarso S.R., Akuntansi  Suatu Pengantar, Penerbit Salemba Empat, Buku Dua, Edisi Kelima Jakarta, 2008, hal 228.


BAB III
DESKRIPSI PADA PT. PUTRA AREZDA PURNAMA MEDAN

3.1.            Sejarah Singkat  Perusahaan
            Pada era globalisasi ini, semakin banyak didirikan perusahaan, baik itu perusahaan modal dalam negeri maupun perusahaan  modal asing, perusahaan milik swasta maupun  milik Negara. PT. Putra Arezda Purnama didirikan  pada tahun 1989 dihadapkan Notaris Djaidir, SE dengan SK Menteri Kehakiman No. 05/XI/89 PT. Putra Arezda Purnama ini berlokasi  di jalan Sisingamangaraja km 10 medan.
            PT. Putra Arezda Purnama bergerak dalam usaha vulkanisir  ban. Pendirian  PT. Putra Arezda Purnama ini diprakarsai oleh  oleh Bapak Toni Nauli Basa dan Bapak Chrishoper Nauli Basah. Pada tahun 1990 terjadi peralihan  kepemilikan  dari Bapak Toni Nauli Basa kepada Bapak Handoko Nauli Basa.
            Dengan hadirnya PT. Putra Arezda Purnama diharapkan dapat turut serta berpartisipasi atau berperan serta dalam meningkatkan  pembangunan  seperti menyediakan lapangan kerja yang semakin bertambah sehingga jumlah pengangguran dapat ditekan.




3.2.            Struktur Organisasi Perusahaan
            Struktur organsiasi  menggambarkan pola hubungan kerja antara  dua orang atau lebih dalam suatu wada dan betanggung jawab dalam  mencapai tujuan yang telah digariskan. Pembagian tugas yang jelas  merupakan salah satu faktor yang termasuk dalam kategori struktur organisasi yang baik. Oleh karena itu, menjadi keharusana  pimpinan perusahaan  untuk menciptakan  pembagian kerja yang jelas dan  tepat bagi setiap anggota perusahaan.
            Dengan adanya pembagian  kerja tersebut, pimpinan perusahaan  dapat mengetahui luas pekerjaan setiap  bagian dan sejalan dengan itu dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas perusahaan.
            Struktur organsiasi perusahaan  PT. Putra Arezda Purnama merupakan system organsiasi dan staf, dimana staf di sini  bias disebut internal auditor ataupun controller. Staf ini selain  berfungsi  sebagai  pembantu pimpinan  yang memberi nasehat  pada pimpinan, juga berfungsi sebagai pelaksana  atau orang yang digerakkan untuk mencapai tujuan dan membantu pimpinan dalam  perencanaan  dan pengawasan.
            Strutkur organisasi PT. Putra Arezda Purnama Medan ditunjukkan pada gambar berikut ini.         



GAMBAR 3.1.
STRUKTUR ORGANISASI PT. AREZDA PURNAMA MEDAN

 
















Sumber : PT. Putra Arezda Purnama



Adapun unsur – unsur  dari badan  organisasi dalam skema adalah sebagai berikut :
1.      Direktur  Utama
Merupakan pimpinan tertinggi dalam perusaahaan dan mempunyai kekuasaan dan tanggung jawab ke dalam dank e luar perusahaan dan memegang peranan dalam memutuskan setiap kebijaksanaan perusahaan. Didalam menjalangkan fungsinya, Direktur Utama dibantu oleh General Manager.
2.      General Manager
Merupakan pimpinan langsung yang berada dibawah Direktur Utama, bertindak sebagai pelaksana harian yang menyelenggarakan kegiatan harian operasi perusahaan, dan dia langsung membawahi dan mengkoordinir berbagai bidang atau bagian, seperti :
-          Bagian Personalia
-          Bagian Pemasaran
-          Bagian keuangan
-          Bagian Produksi
Dalam menjalankan fungsinya sehari – hari, General Manageri dibantu oleh Sekretaris, yang tugasnya mepliputi penerimaan dan pengiriman  surat – surat serta pengarsipanm dokumen perusahaan.


3.      Kepala Bagian Produksi
Bertugas membawahi bagian gudang, bagian pemeliharaan, bagian pengolahan dan bagian pembelian. Secara garis besar tugas dan tanggung jawab Kabag Produksi meliputi :
a.       Mengawasi mutu/kualitas agar sesuai dengan yang direncanakan.
b.      Mengusahakan agar selalu mencapai target produksi seperti yang telah ditentukan, dengan mengawasi proses produksi.
c.       Mengawasi serta mengkoordinisikan pekerjaan – pekerjaan yang dilakukan bawahannya.
d.      Bertanggung jawab atas jalannya proses produksi.
4.      Kepala Bagian Pemasaran
Kepala bagian pemasaran membawahi bagian Penjualan, Penagihan dan Technical Service. Secara garis besar tugas dan tanggung jawab Kepala bagian pemasaran mencakup :
a.       Menyelidiki perkembangan pasar
b.      Mencari pasar yang baru
c.       Mengusahakan agar pembayaran dapat selalu berjalan dengan lancer dan tepat pada waktunya.
d.      Memberikan laporan mengeni hasil penjualan.
e.       Bertanggung jawab atas kelancaran penjualan dan tercapainya target penjualan.

5.      Kepala Bagian Keuangan
Kepala bagian keuangan bertugas membawahi bagian Pembukuan, Banking dan Kasir. Secara garis besar tugas dan tanggung jawab Kepala Bagian Keuangan, mencakup:
a.       Bertanggung jawab atas penyelenggaran administrasi pembukuan dan keuangan dengan teliti dan rapi serta up to date.
b.      Bertanggung jawab untuk mengawasi penyimpanan dan pengeluaran uang kontan, cek dan surat – surat berharga lainnya.
c.       Bertanggung jawab dan berkewajiban menyusun laporan realisasi anggaran bulanan, triwulan, tahunan maupun insidentil.
6.      Kepala Bagian Personalia
Secara garis tugas dan tanggung jawab kepala bagian personalia, mencakup:
a.       Memaraf seluru nota dan surat – surat yang berkaitan dengan kepegawaian.
b.      Membuat daftar gaji, nota pembayaran biaya kantor, keperluan alat tulis, telepon, urusan kendaraan dan lain sebagainya.
c.       Mengadakan seleksi atas penerimaan/penambahan pengawai.
d.      Mengurus penempatan dan pemberhentian pegawai.
7.      Staf Penasehat dan Pengawas
Secara garis tugas dan tanggung jawab Staf  Penasehat dan Pengawas, mencakup:
a.       Memberikan informasi keuangan yang diperlukan pimpinan dalam proses pengambilan keputusan.
b.      Membantu dalam bidang perencanaan dan pengawasan
c.       Menetapkan dan menilai prosedur – prosedur keuangan dan operasional
d.      Menilai system internal auditor.

3.3.            Klasifikasi Aktiva Tetap
            Aktiva tetap yang dimiliki diperoleh perusahaan tersebut diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Tanah, mencakup :
-          Tanah tempat didirkannya bangunan kantor
-          Tanah tempat dirikannya bangunan pabrik
-          Tanah tempat didirkannya bangunan pos satpam
2.      Bangunan dan gedung, mencakup :
-          Bangunan Kantor
-          Pabrik
-          Pos Satpam
3.      Peralatan Transportasi, terdiri dari :
-          Mobil Toyota Kijang
-          Mobil Isuzu Panther
-          Mobil Chevrolet Lux
-          Truk Mitsubishi Colt Diesel  
4.       Perabot dan Peralatan Kantor, terdiri dari :
-          Komputer
-          Printer
-          Filiing Cabinet
-          Meja tulis dan kursi
-          Sofa
-          Kalkulator
-          Sakura White Biard
5.      Mesin dan peralatan mesin, terdiri dari :
- Diesel generator
            Sedangkan aktiva lain – lain yang dimiliki perusahaan, yaitu :
1.      Aktiva tetap yang tidak dipergunakan lagi, dicatat dalam pos aktiva lain – lain berdasarkan nilai bukunya.
2.      Biaya pra operasi.

3.4.            Perolehan dan Pencatatan Aktiva Tetap
            Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, dimana masing – masing cara perolehan mempengaruhi penentuan cara pencatatan atas harga perolehan aktiva yang dimaksud.
            Aktiva tetap milik PT. Arezda Purnama Medan, pada umumnya diperoleh melalui pembelian secara tunai (≤ Rp. 100.000,-) Kalaupun  pembelian dilakukan secara kredit, tenggang waktu pembayarannya tidak lebih dari 1 (satu) tahun, sehingga factor bunga tidak mempengaruhi harga peroleha aktiva tetap.
            Perusahaan ini dalam melakukan pencatatan atas harga perolehan aktiva tetap telah meliputi semua pengeluaran ekspenditure yang diperlukan untuk memperolehnya sampai ditempat dan siap untuk digunakan, misalnya pajak penjualan, biaya  pengangkutan, biaya asuransi aktiva tetap sementara dalam pengirman, biaya instalasi dan biaya lainnya yang masih berhubungan dengan harga perolehan aktiva tetap yang bersangkutan.
            Sedangkan untuk jenis aktiva tetap jenis bangunan, seperti bangunan kantor dan pabik yang harga perolehannya melebihi Rp. 100.000.000,- diperoleh melalui kontraktor. Dalam hal pendirian bangunan tersebut dibuat surat perjanjian antara pihak kontraktor dan pihak perusahaan, yang diwakili pejabat yang berwenang dari masing – masing pihak.
            Dalam hal perolehan aktiva tetap perusahaan menetapkan pengeluaran yang sama atau lebih dari Rp. 150.000,- per unit harus dikapitalisir sebagai aktiva tetap.

3.5.            Capital Expenditure dan Revenue Expenditure
            Dalam hal ini perusahaan  telah menentukan kebijakan atau ketentuan tentang pengeluaran – pengeluaran selama pemakaian aktiva tetap. Adapun kebijakan atau ketentuan perusahaan tentang pengeluaran – pengeluaran selama pemakaian aktiva tetap diuraikan sebagai berikut :
1.      Repair/Maintenance dicatat sebagai biaya.
2.      Pengeluaran biaya yang bersifat to attain production” dikapitalisir dan pengeluran yang bersifat “to maintain production” dicatat sebagai biaya.
3.      Improvement or Betterment (peningkatan atau perbaikan) yang dapat menambah dan memberikan future benefit , dicatat sebagai pengeluaran modal dan pengeluaran tersebut disusutkan sesuai dengan masa manfaat yang tersisa, dengan ketentuan sebagai berikut :
-          Menambah taksiran umur ekonomis aktiva tetap
-          Menambah kapasitas produksi
-          Meningkatakn mutu produksi
-          Mengurangi biaya proses produksi.
            Berdasarkan pengamatan lebih lanjut terhadap objek penelitian PT. Putra Arezda Purnama Medan, bahwa sepanjang tahun 2008, terjadi beberapa transaksi terhadap beberapa aktiva tetap yang dimiliki perusahaan, antara lain:
a.       Pada tanggal 10 Januari tahun 2008 dilakukan perbaikan Generator. Pihak perusahaan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 17.000.000,- Atas transaksi ini, perusahaan mencatatnya sebagai berikut :
Biaya perbaikan generator                        Rp. 17.000.000,-
      Kas                                                                  Rp. 17.000.000,-

b.      Pada tanggal 25 april 2008 dilakukan renovasi bangunan kantor. Pihak perusahaan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 42.000.000,- Atas transaksi ini, perusahaan mencatatnya sebagai berikut :
Biaya renovasi bangunan kantor               Rp. 17.000.000,-
      Kas                                                                              Rp. 17.000.000,-

c.       Pada tanggal 02 Juni 2008 dilakukan perbaikan terhadap Toyota Kijang. Pihak perusahaan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 1.500.000,- Atas transaksi ini, perusahaan mencatatnya sebagai berikut :
Biaya perbiakan                Rp. 1.500.000,-
      Kas                                                                              Rp. 1.500.000,-

3.6.            Perhitungan Depresiasi
Sebagaimana yang dituangkan dalam Standar Akuntansi Keuangan, bahwa salah satu metode perhitungan depresiasi (penyusutan) terhadap aktiva tetap adalah straight line method (metode garis lurus). Demikian halnya dengan PT. Putra Arezda Purnama Medan, secara keseluruhan aktiva tetap yang disusutkan, dbebankan penyusutannya berdasarkan metode garis lurus.
Pengamatan lebih lanjut menunjukan bahwa manajerial perusahaan menetapkan kebijakan nilai sisa (nilai residu) untuk setiap aktiva tetap yang dimiliki perusahaan sebesar 10% dari harga perolehannya. Sedangkan taksiran umur ekonomis dari masing – masing aktiva tetap yang dimiliki perusahaan, sebagai berikut :
-          Bangunan dan gedung, umur ekonomisnya: 15 tahun  
-          Mesin dan peralatan Mesin, umur ekonomisnya: 10 tahun
-          Transportasi dan peralatan transportasi, umur ekonomisnya: 5 tahun
-          Peralatan kantor, umur ekonomisnya ditaksir : 5 tahun.
            Untuk lebih jelasnya, daftar aktiva tetap dan biaya penyusutan dari masing – masing aktiva tetap yang dimiliki PT. Putra Arezda Purnama Medan, ditunjukan pada table berikut ini :

TABEL 3.1.
PT. PUTRA AREZDA PURNAMA MEDAN
DAFTAR PERINCIAN AKTIVA TETAP DAN PENYUSUTAN
TAHUN 2012
No.
Jenis Aktiva Tetap
Taksiran Umur Ekonomis
(Tahun)
Harga Perolehan
(Rp.)
AKumulasi Penyusutan
(Rp)
Nilai Buku
(Rp.)
1.
2.
3.
4.
5.
Tanah
Gedung dan Bangunan
Peralatan Transportasi
Peralatan Kantor
Mesin dan Peralatan Mesin
-
15
5
5
10
65.456.000,00
695.511.017,20
115.089.670,00
28.392.200,00
439.695.888,87
-
249.071.803,81
52.484.585,93
19.740.355,00
214.167.674,17
65.456.000,00
446.439.213,39
62.605.084,07
8.651.845,00
225.528.214,80
TOTAL
1.344.144.766,17
535.464.418,91
808.680.357,26

Sumber : PT. Putra Arezda Purnama Medan

TABEL 3.1.
PT. PUTRA AREZDA PURNAMA MEDAN
DAFTAR PERINCIAN AKTIVA TETAP DAN PENYUSUTAN
TAHUN 2008
No.
Jenis Aktiva Tetap
Taksiran Umur Ekonomis
(Tahun)
Harga Perolehan
(Rp.)
AKumulasi Penyusutan
(Rp)
Nilai Buku
(Rp.)
1.
2.
3.
4.
5.
Tanah
Gedung dan Bangunan
Peralatan Transportasi
Peralatan Kantor
Mesin dan Peralatan Mesin
-
15
5
5
10
65.456.000,00
695.511.017,20
115.089.670,00
28.392.200,00
439.695.888,87
-
291.309.167,81
64.484.585,93
21.581.980,00
263.314.835,97
65.456.000,00
410.276.759,39
50.605.084,07
10.775.220,00
190.259.261,64
TOTAL
1.368.062.894,81
640.690.569,71
727.372.325,10

Sumber : PT. Putra Arezda Purnama Medan
3.7.            Penyajian Aktiva Tetap Dalam Neraca
            Penyajian yang baik dan sistematis serta pengungkapan yang lengkap mengani aktiva tetap dalam laporan keuangan akan memudahkan bagi manajemen dan pihak yang memerlukan untuk mendapatkan informasi tentang aktiva tetap perusahaan.
            Laporan keuangan PT. Putra Arezda Purnama Medan yang disajikan adalah Neraca, Laporan Laba Rugi, dan Perhitungan harga Pokok Penjualan. Neraca disajikan dalam bentuk Account Form, dengan aktiva pada sisi debet dan kewajiban serta modal pada sisi kredit. Aktiva terdiri dari aktiva lancer dan aktiva tetap, sedangkan kewajiban terdiri dari hutang lancer dan hutang jangka panjang.
            Penyajian aktiva tetap dalam neraca dinyatakan secara terpisah dan disajikan sebesar nilai buku, yaitu harga peroleha aktiva tetap secara keseluruhan dikurangi dengan akumulasi secara keseluruhan. Neraca PT. Putra Arezda Purnama Medan Tahun 2012 dan Tahun 2008 ditunjukan pada table dibawah ini.






TABEL 3.3.
PT. PUTRA AREZDA PURNAMA MEDAN
NERACA
PER 31 DESEMBER 2008
(Dalam Rp)
Nama  Perkiraan
31 Desember
2012
2008
AKTIVA
Aktiva Lancar :
Kas
Bank
Piutang
Persediaan Bahan Baku
Persediaan Barang Jadi
Biaya DibayarDimuka


24.575.000,00
150.667.825,00
1.457.489.284,92
214.848.874,52
237.535.570,53
53.755.931,00


25.695.500,00
140.220.860,00
1.562.490.334,72
320.490.600,43
455.300.325,62
65.435.622,00
Total Aktiva Lancar
2.138.872.485,97
2.569.633.242,77
Aktiva Tetap :
Aktiva Tetap Berwujud
Akumulasi Penyusutan 

1.344.144.776,17
(535.464.418,91)

1.368.062.894,81
(640.690.569,71)
Total Aktiva Tetap
808.680.357,26
727.372.325,10
Total Aktiva
2.947.552.843,23
3.297.005.567,87
HUTANG DAN MODAL
Hutang Lancar :
Hutang Dagang
Hutang Pajak
Biaya Yang Masih Harus Dibayar
Hutang lancar lain – lain


681.437.700,52
39.116.463,48
118.275.746,92
174.414.587,42


720.552.450,41
45.625.350,00
168.290.550,45
290.612.430,31
Total Hutang Lancar
1.013.244.498,34
1.225.080.781,17
Hutang Jangka Panjang :
Hutang Jangka Panjang

300.000.000,00

300.000.000
Total Hutang
1.313.244.498,34
1.525.080.781,17
Modal :
Modal Saham
Laba Ditahan

400.000.000,00
1.234.308.344,89

400.000.000,00
1.371.924.786,70
Total Modal
1.634.308.344,89
1.771.924.786,70
Total Hutang dan Modal
2.947.552.843,23
3.297.005.567,87

Sumber : PT. Putra Arezda Purnama Medan



[1] Ikatan Akuntansi Indonesia,  Standard Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2010, PSAK 16, hal 16.2
[2] Warren-Reeve-Fess, Pengarar Akuntansi, Terjemahan Aria Farahmita, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2005, Hal 492.
[3] Ikatan Akuntansi Indonesia, Op.Cit, PSAK 16, hal 16.1
[4] Soemarso S.R., Akuntansi  Suatu Pengantar, Penerbit Salemba Empat, Buku Dua, Edisi Lima Jakarta, 2005, hal 20.
[5] AL.  Haryono Yusup,  Dasar-dasar Akuntansi, Edisi KElima, Jilid Kedua, cetakan Keenam, STIE-YKPN, Yogyakarta, 2001, hal 155.
[6] Soemarso SR, Op.Cit, Hal 20.
[7] Wilson James D. dan John B. Campell,  Controllership Tugas Akuntan Manajemen,  Terjemahan Tjintjin Fenix Tjendra, Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta, 1999, hal 501-502.
[8] Jay M. Smith dan K. Fred Skousen, Intermediate Accounting, 9th Edition, Terjemahan Tim PEnerjemah Erlangga, Jilid I, Cetakan Kesembilan, Erlangga Jakarta, 2000, Hal 443.
[9]Ahmbed Riahi Belkoui, Teori Akuntansi, Buku I, Edisi Pertama, Diterjemahkan Oleh : Marwata,  Harjanti Widiastuti, Kurniawan, Alia Ariesanti, Salemba Empat, Jakarta, 2000, hal. 91.
[10] James D. Wilson dan John B. Campbell, Op.Cit. Hal 506
[11] Ikatan Akuntansi Indonesia, Op.Cit, hal 17.1
[12] Warren – Reeve – Fess, Op.Cit. hal 497
[13] Ikatan Akuntansi Indonesia, O. Cit, hal 17.4-17.5

0 Response to "SKRIPSI EKONOMI"

Post a Comment

Judul saya isi laman Judul saya isi laman